TIMESINDONESIA.MY.ID - Provinsi Sumatera Barat saat ini tengah menghadapi tantangan signifikan terkait ketahanan sistem kelistrikan daerah. Wilayah ini tercatat hanya memiliki cadangan daya listrik sebesar 70 megawatt (MW).

Kebutuhan total listrik di wilayah tersebut mencapai angka 700 MW guna menopang aktivitas masyarakat dan industri. Kesenjangan antara cadangan dan kebutuhan ini menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Kondisi tersebut dinilai menciptakan kerentanan yang cukup tinggi bagi daerah. Apabila terjadi gangguan pada sistem kelistrikan interkoneksi Sumatera, stabilitas pasokan listrik di Sumbar berisiko terganggu.

Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mulai mengambil langkah konkret. Pihaknya kini gencar mendorong pembangunan sejumlah pembangkit listrik baru untuk meningkatkan cadangan daya secara mandiri.

Upaya ini dilakukan agar ketergantungan terhadap sistem kelistrikan luar daerah dapat dikurangi secara bertahap. Langkah tersebut diharapkan mampu menjamin keandalan pasokan listrik bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dikutip dari Kompas.com, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, Helmi, memberikan penjelasan mengenai situasi ini. Ia menekankan bahwa angka 70 MW merupakan batas yang sangat tipis jika terjadi masalah pada sistem Sumatera.

"Secara mandiri kita hanya punya cadangan daya sekitar 70 megawatt," ujar Helmi.

Helmi menambahkan bahwa kondisi tersebut memang menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa cadangan yang ada saat ini relatif kecil untuk mengantisipasi potensi gangguan sistem yang lebih luas.

"Cadangan 70 MW menjadi batas yang relatif kecil jika sistem Sumatera mengalami gangguan," kata Helmi.