TIMESINDONESIA.MY.ID - Kebakaran lahan yang melanda Desa Sajau Hilir, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, hingga kini masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Peristiwa yang sudah berlangsung selama dua pekan ini menimbulkan dampak serius, termasuk adanya korban jiwa dari warga setempat.
Dilansir dari Kompas.com, musibah ini telah menjadi perhatian serius bagi otoritas setempat. Upaya penanganan terus dilakukan guna mencegah meluasnya titik api di kawasan tersebut.
Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bulungan, Supranoto, mengungkapkan bahwa titik api pertama kali muncul pada Minggu, 16 Agustus 2026. Hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, kondisi di lapangan masih belum terkendali sepenuhnya.
"Kebakaran terjadi sejak 16 Agustus 2026 lalu. Lahan yang terbakar mayoritas gambut. Ada yang basah juga ada yang kering. Lokasi api kebanyakan di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan," ujar Supranoto.
Tantangan utama dalam proses pemadaman adalah karakteristik lahan gambut yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Selain itu, sebaran titik api yang banyak di berbagai lokasi semakin menyulitkan tim di lapangan.
Supranoto juga menjelaskan bahwa medan yang harus ditempuh oleh petugas sangat menantang. Banyak titik kebakaran berada di wilayah yang tidak memiliki akses jalan sehingga sulit dijangkau oleh armada kendaraan pemadam.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, BPBD Bulungan telah menerapkan dua skema pemadaman yang berbeda. Strategi ini disesuaikan dengan kondisi geografis di masing-masing titik api yang terbakar.
Bagi lokasi kebakaran yang berada di dekat pesisir atau perairan, tim melakukan pemadaman secara manual. Dalam pelaksanaannya, petugas memanfaatkan bantuan ketinting atau kapal nelayan setempat untuk menjangkau titik api.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi perluasan kebakaran lahan. Koordinasi antarinstansi terus ditingkatkan demi memastikan keselamatan warga dan pemulihan kondisi lingkungan di Sajau Hilir.