TIMESINDONESIA.MY.ID - Pemerintah Indonesia kembali memperkuat upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui kerja sama internasional. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk mitigasi dampak bencana asap yang kerap melanda wilayah Indonesia.
Dikutip dari Kompas.com, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi adanya bantuan pengerahan tiga unit helikopter dari Pemerintah Jepang. Bantuan ini ditujukan untuk memaksimalkan operasi pemadaman dari udara di titik-titik rawan kebakaran.
Terkait teknis persiapan bantuan tersebut, pihak BNPB telah melakukan serangkaian koordinasi intensif. Rapat persiapan mengenai survei lokasi telah diselesaikan guna memastikan efektivitas operasional di lapangan.
"Jadi (kami) sudah dapat berita bahwa telah dilaksanakan rapat persiapan site survey dalam rangka perbantuan Jepang dalam hal ini karhutla, Jumat kemarin tanggal 28 Agustus 2026," ucap Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan.
Keterlibatan Jepang dalam misi ini dipandang sebagai solusi praktis untuk meningkatkan kapasitas pemadaman. Helikopter yang dikirimkan memiliki spesifikasi khusus yang mampu membawa volume air dalam jumlah besar.
"Kami mendapat informasi bahwa akan ada bantuan Jepang meliputi tiga unit helikopter yang di antaranya Chinook. Jadi ini akan mungkin lebih banyak air yang akan diambil," kata Berton Panjaitan.
Berton Panjaitan menambahkan bahwa pemilihan armada jenis Chinook diharapkan dapat memberikan dampak signifikan bagi tim di lapangan. Keberadaan helikopter ini akan sangat membantu mempercepat proses pembasahan lahan yang terbakar.
Rencananya, seluruh armada helikopter bantuan tersebut akan mulai diterjunkan dalam operasi pemadaman pada 10 September 2026 mendatang. Hingga saat ini, pihak BNPB terus mematangkan rencana teknis agar misi tersebut berjalan sesuai jadwal.
Langkah kolaborasi ini diharapkan dapat menekan angka karhutla secara signifikan di Indonesia. Dukungan teknologi dari Jepang menjadi salah satu solusi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan cuaca ekstrem.