TIMESINDONESIA.MY.ID - Fenomena astronomi menarik yang dikenal sebagai hari tanpa bayangan akan kembali menyapa wilayah Indonesia pada semester kedua tahun 2026. Peristiwa ini terjadi saat Matahari berada tepat di titik zenit atau posisi tertinggi di atas lokasi pengamatan.
Dikutip dari Detik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa fenomena ini akan berlangsung di berbagai ibu kota provinsi. Masyarakat diimbau untuk menjadikan jadwal dari lembaga tersebut sebagai acuan utama dalam melakukan pengamatan.
"Hari Tanpa Bayangan atau dikenal sebagai kulminasi utama atau transit Matahari merupakan fenomena ketika Matahari berada di posisi paling tinggi di langit," jelas pihak BMKG.
Secara teknis, fenomena ini terjadi karena posisi Matahari yang tepat berada di atas kepala pengamat. Kondisi tersebut menyebabkan bayangan benda tegak menjadi sangat pendek atau bahkan tampak menghilang untuk sesaat.
"Saat kulminasi utama, Matahari berada tepat di atas kepala pengamat atau mencapai titik zenit," ungkap BMKG.
Kejadian alam ini dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia karena letak geografis wilayah yang berada di sekitar garis khatulistiwa. Posisi ini memungkinkan Matahari melintasi wilayah Indonesia dalam dua periode setiap tahunnya.
"BMKG menjelaskan kulminasi utama terjadi ketika bidang ekuator Bumi tidak tepat berimpit dengan bidang ekliptika," papar pihak BMKG.
Pada tahun 2026, periode pertama telah berlalu, dan kini masyarakat akan memasuki periode kedua. Kulminasi utama kedua ini dijadwalkan akan terjadi mulai dari akhir September hingga pertengahan Oktober 2026.
"Pada 2026, Matahari melintasi wilayah Indonesia dalam dua periode. Kulminasi utama pertama berlangsung antara 21 Februari hingga 5 April, sedangkan kulminasi utama kedua terjadi antara 21 September hingga 21 Oktober," tambah BMKG.