TIMESINDONESIA.MY.ID - Jagad media sosial baru-baru ini dihebohkan dengan beredarnya sebuah informasi yang menyebutkan bahwa kawasan Jabodetabek dan Banten tengah dikepung oleh gas Sulfur Dioksida (SO2). Narasi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat akan dampak kesehatan yang mungkin timbul.

Informasi yang tersebar luas tersebut mengklaim bahwa hembusan angin ke arah timur laut telah membawa emisi gas berbahaya langsung menuju pusat pemukiman penduduk yang padat. Kondisi ini lantas memicu keresahan warga di wilayah terdampak.

Selain menyoroti arah angin, pesan berantai itu juga merinci berbagai potensi bahaya kesehatan yang disebabkan oleh gas SO2. Pihak penyebar informasi bahkan mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan preventif.

Masyarakat yang menyebarkan informasi tersebut meminta pihak berwenang untuk menerbitkan peringatan dini. Mereka juga berharap agar pemerintah segera melakukan pembagian masker gratis kepada warga sebagai langkah antisipasi.

Dikutip dari Kompas.com, Badan Geologi akhirnya memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan isu yang berkembang di tengah masyarakat. Penjelasan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang akurat mengenai aktivitas vulkanik yang sedang terjadi.

"Gunung api yang sedang mengalami erupsi magmatik memang akan melepaskan gas Sulfur Dioksida (SO2) dalam kuantitas yang besar," ujar Kepala Badan Geologi, Lana Saria.

Hingga saat ini, pihak terkait terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau secara intensif. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan data yang disampaikan kepada publik tetap berdasarkan hasil pengamatan ilmiah yang akurat.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Pihak Badan Geologi juga memastikan akan terus memberikan pembaruan informasi secara berkala kepada publik.

Langkah mitigasi dan pengawasan gunung berapi di Indonesia akan tetap dijalankan sesuai dengan prosedur standar operasional. Hal ini dilakukan guna menjaga keselamatan warga yang berada di kawasan rawan bencana.