TIMESINDONESIA.MY.ID - Dikutip dari sumber berita terkait, Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menyoroti pentingnya penanganan kesehatan mental bagi warga yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, pemulihan pascabencana tidak hanya terbatas pada infrastruktur fisik, tetapi juga aspek psikologis.
Netty Prasetiyani, yang juga menjabat sebagai Ketua DPP PKS Bidang Pembinaan Masyarakat Rentan dan Disabilitas, menekankan perlunya intervensi khusus dari pemerintah. Langkah ini dinilai krusial untuk memulihkan kondisi mental masyarakat yang mengalami trauma akibat bencana alam tersebut.
Dalam upaya konkretnya, Netty telah menyampaikan usulan tersebut secara langsung kepada Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin. Saran ini disampaikan agar pemerintah pusat memberikan perhatian lebih pada layanan dukungan kesehatan jiwa di lokasi bencana.
"Saat raker dengan Menkes kemarin, saya juga sudah bertanya dan memberi masukan soal dukungan psikososial dan kesehatan jiwa diperkuat dalam penanganan pascagempa Flores, NTT," ujar Netty.
Dukungan kesehatan mental ini dianggap mendesak mengingat besarnya tekanan yang dialami oleh masyarakat setempat. Selain warga terdampak, Netty juga menyoroti kondisi para garda terdepan di lapangan yang bekerja tanpa henti.
"Netty menilai dukungan psikososial dan kesehatan jiwa diperlukan bagi tenaga kesehatan (nakes), tenaga cadangan kesehatan (TCK) hingga relawan," ujar Netty.
Ia menjelaskan bahwa urgensi layanan ini muncul karena medan penanganan bencana di NTT dinilai cukup berat. Beban kerja yang tinggi serta situasi psikologis yang tidak menentu membuat para relawan dan tenaga medis rentan mengalami kelelahan mental.
Pernyataan ini disampaikan Netty kepada awak media pada Jumat, 28 Agustus 2026. Ia berharap pemerintah segera merespons masukan tersebut demi menciptakan pemulihan yang komprehensif bagi seluruh pihak yang terlibat.
Hingga saat ini, koordinasi antar instansi terus dilakukan untuk memastikan bantuan kesehatan fisik maupun mental tersalurkan dengan tepat sasaran. Fokus utama tetap pada pemulihan stabilitas emosional warga agar dapat kembali beraktivitas dengan tenang.