TIMESINDONESIA.MY.ID - Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga saat ini masih terus mengalami aktivitas gempa susulan pasca-kejadian utama. Berdasarkan data terbaru, jumlah guncangan susulan telah menembus angka 7.028 kali.

Fenomena geologi ini menjadi perhatian serius bagi otoritas terkait, terutama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dikutip dari Kompas, pihak BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap setiap pergerakan lempeng di wilayah tersebut.

Aktivitas seismik yang tinggi ini diperkirakan tidak akan berhenti dalam waktu dekat. BMKG memprediksi bahwa rangkaian gempa susulan masih akan terus berlangsung setidaknya hingga empat minggu ke depan.

"Frekuensi gempa susulan memang masih cukup tinggi, namun intensitasnya secara bertahap terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu," ujar Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono.

Masyarakat yang berada di kawasan terdampak diminta untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi guncangan. Penting bagi warga untuk selalu memantau informasi resmi dari kanal-kanal komunikasi pemerintah.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak panik, namun tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang di daerah masing-masing," kata Daryono.

Pemerintah daerah setempat juga terus berkoordinasi dengan tim ahli untuk memastikan keamanan infrastruktur bangunan di NTT. Hal ini dilakukan guna meminimalisir risiko dampak kerusakan yang mungkin ditimbulkan oleh gempa susulan.

Langkah mitigasi bencana saat ini menjadi prioritas utama bagi seluruh pemangku kepentingan di NTT. Edukasi mengenai prosedur penyelamatan diri saat terjadi gempa kembali digencarkan kepada warga di titik-titik rawan.

Situasi di NTT saat ini tetap berada dalam pengawasan ketat untuk memastikan keselamatan penduduk. BMKG akan terus memperbarui data secara berkala seiring dengan perkembangan aktivitas tektonik di wilayah tersebut.