TIMESINDONESIA.MY.ID - Kondisi kualitas udara di wilayah Kalimantan Barat kini menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan setempat. Hal ini dipicu oleh meningkatnya intensitas kebakaran hutan dan lahan yang berdampak langsung pada kesehatan pernapasan masyarakat.
Dinas Kesehatan Kalimantan Barat mencatat lonjakan angka penderita infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA yang cukup signifikan di wilayah tersebut. Peningkatan ini terpantau terjadi secara konsisten seiring dengan meluasnya titik api di berbagai area.
Berdasarkan data resmi, total kasus ISPA yang tercatat di Kalimantan Barat mencapai 165.727 penderita. Jumlah akumulasi ini dihitung dalam rentang waktu mulai dari 1 Januari hingga 22 Agustus 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, dr. Erna Yulianti, menjelaskan bahwa angka tersebut diperoleh melalui pemantauan sistematis. Penggunaan teknologi menjadi kunci dalam memetakan penyebaran penyakit akibat polusi udara ini.
"Data ini merupakan hasil rekapitulasi yang masuk melalui sistem kewaspadaan dini dan respons guna mendeteksi perubahan tren penyakit di tengah masyarakat," ujar dr. Erna Yulianti.
Pihak otoritas kesehatan menggunakan sistem tersebut untuk memantau fluktuasi kesehatan warga secara real-time. Hal ini dilakukan agar penanganan medis dapat segera diberikan kepada masyarakat yang terdampak.
"Dari periode 1 Januari sampai 22 Agustus 2026 tercatat sebanyak 165.727 kasus ISPA yang dilaporkan melalui sistem alert kami," kata dr. Erna Yulianti.
Dikutip dari detikKalimantan, data ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap paparan asap akibat karhutla. Langkah pencegahan dini sangat dianjurkan bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Hingga saat ini, pemerintah daerah terus berupaya melakukan mitigasi untuk menekan laju kebakaran hutan. Sinergi antar instansi sangat diperlukan agar dampak kesehatan bagi warga tidak semakin meluas.