TIMESINDONESIA.MY.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi pilar utama dalam menjaga keamanan masyarakat dari ancaman bencana alam. Lembaga ini terus bertransformasi seiring dengan tantangan geografis yang dihadapi Indonesia dari masa ke masa.

Dikutip dari Kompas.com, pembentukan lembaga ini didasari oleh realitas bahwa Indonesia merupakan gugusan kepulauan terbesar di dunia. Wilayah ini memiliki 129 gunung api aktif yang sering disebut sebagai kawasan 'ring of fire'.

Selain faktor gunung berapi, posisi geologis Indonesia juga sangat strategis sekaligus rawan. Negara ini terletak di titik pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, yakni Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Dalam kurun waktu 2020 hingga 2026, terjadi pergeseran alokasi anggaran yang signifikan bagi lembaga tersebut. Anggaran yang awalnya mencapai Rp 11,78 triliun kini tercatat berada di angka Rp 491 miliar.

"Cincin Api Pasifik dan berada di pertemuan tiga lempeng tektonik menempatkan negara kepulauan ini berpotensi terhadap ancaman bencana alam, posisi Indonesia yang berada di wilayah tropis serta kondisi hidrologis memicu terjadinya bencana alam lainnya," ujar pihak BNPB melalui laman resminya, Senin (7/9/2026).

Pemerintah Indonesia menyadari bahwa infrastruktur sistem penanggulangan bencana adalah elemen krusial bagi keamanan nasional. Oleh karena itu, penguatan kelembagaan terus dilakukan secara bertahap.

"Menghadapi ancaman bencana tersebut, Pemerintah Indonesia berperan penting dalam membangun sistem penanggulangan bencana di tanah air. Pembentukan lembaga merupakan salah satu bagian dari sistem yang telah berproses dari waktu ke waktu," jelas pihak BNPB dalam laman resminya.

Perubahan anggaran ini tentu menjadi sorotan publik terkait efektivitas operasional di lapangan. Namun, komitmen pemerintah untuk menjaga sistem mitigasi bencana tetap menjadi prioritas utama.

Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap potensi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi. BNPB terus melakukan pembaruan sistem agar respons terhadap kebencanaan tetap optimal meski dengan penyesuaian anggaran.