TIMESINDONESIA.MY.ID - Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, baru saja mengeluarkan kebijakan strategis terkait operasional sekolah. Langkah ini diambil sebagai respons atas dampak gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026).
Dikutip dari Kompas.com, instansi terkait telah menetapkan sejumlah penyesuaian jadwal bagi seluruh jenjang pendidikan di wilayah terdampak. Keputusan ini bertujuan untuk memastikan keamanan serta kesiapan mental para siswa sebelum kembali ke ruang kelas.
"Untuk jenjang Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pembelajaran masih diliburkan selama satu pekan ke depan. Siswa masih menjalani pembelajaran melalui metode belajar dari rumah (BDR)," ujar Patris Federiko.
Kebijakan mengenai belajar dari rumah ini diambil untuk melindungi kelompok usia dini yang paling rentan terhadap trauma pascabencana. Selama sepekan ke depan, interaksi pendidikan akan tetap dilakukan secara jarak jauh dari kediaman masing-masing.
Sementara itu, bagi jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), kegiatan belajar mengajar secara tatap muka baru akan kembali dimulai pada tanggal 31 Agustus mendatang. Namun, proses pembelajaran tidak akan langsung menyentuh kurikulum akademik seperti biasanya.
"Sementara itu, untuk jenjang pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai pada 31 Agustus," tutur Patris Federiko.
Pihak dinas menegaskan bahwa transisi kembali ke sekolah akan difokuskan pada pemulihan kondisi emosional siswa. Hal ini dinilai krusial agar kegiatan belajar dapat berjalan dengan efektif setelah suasana kondusif kembali tercipta.
"Hari pertama hingga ketiga fokus pada kegiatan pemulihan psikologis, seperti trauma healing bagi siswa. Kemudian, hari keempat hingga keenam akan diisi dengan penguatan bagi para guru," kata Patris Federiko.
Penerapan metode ini diharapkan dapat membantu siswa mengatasi rasa takut atau kecemasan akibat guncangan gempa. Selain itu, pemberian penguatan kepada tenaga pendidik juga menjadi bagian integral agar guru siap mendampingi siswa dalam proses pemulihan tersebut.