TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mengakibatkan dampak kesehatan serius bagi masyarakat setempat. Banyak korban yang terpaksa mendapatkan perawatan medis intensif akibat mengalami luka-luka di bagian vital tubuh.

Dilansir dari Kompas.com, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan pemetaan terhadap kondisi kesehatan para korban. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa cedera kepala dan patah tulang menjadi jenis trauma yang paling banyak ditemukan di lapangan.

"Biasanya itu karena cedera kepala, kemudian patah tulang terbuka. Jadi patah tulang terbuka itu patah tulang, patah tulang terbuka," ujar Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Selain cedera pada bagian kepala dan ekstremitas, tim medis di lapangan juga menemukan adanya korban yang mengalami cedera tulang belakang. Kondisi ini dikategorikan sebagai kasus yang memerlukan perhatian khusus karena kompleksitasnya.

Menurut keterangan pihak Kemenkes, penanganan terhadap korban dengan cedera tulang belakang tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dibutuhkan keahlian dari dokter subspesialis agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut bagi pasien.

"Ini yang paling berat kasusnya. Kalau ditangani secara bedah ortopedi karena dia bisa menjepit. Kalau penanganan salah itu akan susah, enggak bisa cuma dioperasi biasa, butuh operasi khusus dokter subspesialis spine ortopedi untuk melakukan operasi trauma vertebra ini," ungkap Dante Saksono Harbuwono.

Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan kondisi kesehatan para penyintas gempa. Pihaknya berupaya memastikan seluruh fasilitas kesehatan memberikan pelayanan terbaik bagi korban yang terdampak.

Langkah koordinasi dengan tenaga medis subspesialis di berbagai rumah sakit terus dilakukan guna mempercepat proses pemulihan. Pemerintah pusat memastikan bahwa kebutuhan akan dokter spesialis tulang belakang menjadi prioritas dalam penanganan bencana ini.

Dikutip dari Kompas.com, informasi mengenai kondisi korban ini disampaikan langsung oleh Wamenkes dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari transparansi penanganan darurat bencana di wilayah NTT.