TIMESINDONESIA.MY.ID - Di era digital yang serba cepat, kecerdasan buatan (AI) semakin sering diandalkan untuk mencari jawaban atas berbagai pertanyaan, termasuk persoalan kesehatan. Namun, kemudahan yang ditawarkan AI ini perlu diimbangi dengan pemahaman bahwa ia bukanlah satu-satunya acuan utama dalam urusan medis.
Kisah Warren Tierney, seorang pria asal Irlandia, menjadi bukti nyata akan potensi risiko yang perlu diwaspadai. Pada awal tahun 2025, Warren mengalami gejala sakit tenggorokan yang sangat mengganggu, bahkan sampai kesulitan menelan cairan.
Alih-alih segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, Warren justru memutuskan untuk mencari informasi dan saran melalui ChatGPT. Ia berharap AI tersebut dapat memberikan pandangan awal mengenai kondisinya yang memprihatinkan.
Saat memaparkan seluruh keluhan kesehatannya kepada ChatGPT, respons yang diterima Warren ternyata tidak sesuai harapan. AI tersebut memberikan penilaian yang justru terkesan meremehkan potensi penyakit serius.
"Kanker? Sangat tidak mungkin. Tidak ada gejala yang mengkhawatirkan, stabil, dan membaik," demikian kutipan respons ChatGPT yang disampaikan Warren, seperti dilansir dari laman Times of India.
Pernyataan AI tersebut ternyata keliru dan berakibat fatal. Penilaian yang meremehkan dari ChatGPT membuat Warren menunda langkah selanjutnya untuk mendapatkan diagnosis medis yang akurat dari profesional kesehatan.
Akibatnya, deteksi kanker esofagus yang dideritanya mengalami keterlambatan signifikan. Keterlambatan ini membuat penyakit tersebut telah berkembang hingga mencapai stadium 4.
Kisah Warren Tierney menjadi pengingat penting bagi masyarakat luas. Penting untuk selalu mengutamakan konsultasi dengan dokter atau tenaga medis profesional ketika mengalami gejala penyakit, bukan hanya mengandalkan informasi dari AI.
Meskipun AI dapat menjadi alat bantu untuk mencari informasi awal, keputusan medis yang krusial tetap harus didasarkan pada pemeriksaan dan diagnosis oleh para ahli yang kompeten. Ini demi memastikan penanganan yang tepat dan mencegah risiko yang tidak diinginkan.