TIMESINDONESIA.MY.ID - Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kebumen akhirnya memberikan klarifikasi terkait polemik penggunaan kendaraan jenis engkel. Kendaraan ini digunakan untuk mengantar para atlet yang akan bertanding dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) di Semarang, Jawa Tengah.

Dikutip dari Kompas.com, isu ini sempat ramai diperbincangkan publik karena pemilihan moda transportasi yang dianggap tidak lazim bagi kontingen atlet. Pihak dinas merasa perlu meluruskan informasi agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat.

Kepala Disdikpora Kabupaten Kebumen, Agus Sunaryo, menegaskan bahwa kebijakan penggunaan kendaraan tersebut bukan tanpa alasan kuat. Keputusan itu diambil untuk memastikan kelancaran mobilitas seluruh atlet selama masa pertandingan berlangsung.

"Penggunaan kendaraan tersebut dilakukan bukan semata-mata untuk perjalanan dari Kebumen menuju Semarang, tetapi terutama untuk memenuhi kebutuhan mobilitas atlet selama mengikuti pertandingan," ujar Agus Sunaryo.

Tantangan utama yang dihadapi kontingen tahun ini adalah lokasi pertandingan yang tersebar di beberapa wilayah berbeda. Selain di Kota Semarang, ajang Popda kali ini juga digelar di Kabupaten Kendal serta Kabupaten Pati.

Khusus untuk wilayah Semarang, pihak panitia mencatat terdapat 14 titik lokasi pertandingan yang harus dijangkau oleh para atlet. Hal inilah yang menjadi pertimbangan utama dinas dalam memilih jenis armada yang akan digunakan.

"Kalau menggunakan bus besar, bus itu tidak akan bisa untuk mobilitas ketika di Semarang. Untuk mengantar dan menjemput ke venue-venue yang jumlahnya relatif banyak," kata Agus Sunaryo.

Agus menambahkan bahwa kondisi geografis dan sebaran venue di Semarang membuat kebutuhan transportasi kontingen Kebumen berbeda secara teknis. Hal ini tidak sama dengan pelaksanaan kegiatan Popda pada tahun-tahun sebelumnya.

"Kondisi tersebut membuat kebutuhan transportasi kontingen Kebumen berbeda dibandingkan pelaksanaan Popda tahun sebelumnya," ungkap Agus Sunaryo.