TIMESINDONESIA.MY.ID - Sebuah insiden keracunan massal menimpa ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur. Peristiwa ini terjadi setelah para santri mengonsumsi menu makan bergizi gratis (MBG) yang disediakan oleh pihak terkait.
Dikutip dari sumber berita terkait, Badan Gizi Nasional (BGN) segera melakukan investigasi mendalam untuk mencari penyebab utama kejadian tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pelanggaran terhadap standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, menjelaskan bahwa masalah utama terletak pada ketidakdisiplinan pihak penyedia dalam mendistribusikan makanan. Durasi waktu penyaluran yang melampaui batas menjadi faktor kritis dalam kasus ini.
"Itu karena ketidakdisiplinan dari pada SPPG dan pendistribusian. Jadi seharusnya itu loading 4 jam selesai dari masak langsung dibagikan. Tapi faktanya di lapangan lebih dari 4 jam," ujar Ketut Sumedana.
Ketut menambahkan bahwa keterlambatan tersebut berdampak buruk pada kualitas makanan yang disajikan. Mengingat menu makan bergizi gratis tidak menggunakan pengawet, maka ketepatan waktu distribusi menjadi kunci utama keamanan pangan.
"Nah itulah yang menyebabkan keracunan, karena MBG ini kan nggak pakai pengawet. Jadi mudah dia basi. Mudah bakterinya cepat berkembang," kata Ketut Sumedana.
Pihak BGN menegaskan bahwa bakteri sangat cepat berkembang biak pada makanan yang dibiarkan terlalu lama di ruang terbuka. Hal inilah yang memicu reaksi keracunan pada ratusan santri yang mengonsumsi sajian tersebut.
Kejadian di Sidoarjo ini menjadi catatan penting bagi evaluasi penyelenggaraan program makan bergizi ke depannya. Pihak berwenang diharapkan dapat memperketat pengawasan terhadap seluruh rantai distribusi makanan di lapangan.
Hingga saat ini, pihak terkait terus memantau kondisi para santri yang sempat terdampak akibat insiden tersebut. Langkah perbaikan SOP diharapkan mampu mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.