TIMESINDONESIA.MY.ID - Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah responsif setelah terjadinya insiden keracunan massal yang menimpa ratusan santri di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Putat, Tanggulangin, Sidoarjo. Langkah ini diambil sebagai bentuk evaluasi menyeluruh terhadap operasional penyediaan makanan bergizi di wilayah tersebut.
Dikutip dari Kompas.com, BGN memutuskan untuk menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Gizi (SPPG) di kawasan Tanggulangin. Kebijakan ini diberlakukan guna memastikan standar keamanan pangan tetap terjaga dengan ketat ke depannya.
"Kami juga melakukan suspend berat, dengan kategori berat, selama 30 hari terhadap SPPG Sidoarjo, Tanggulangin," ujar Ketut Sumeda.
Selain penghentian operasional, pihak BGN juga telah menyiapkan langkah administratif sebagai bentuk tanggung jawab atas insiden tersebut. Penggantian struktur kepemimpinan di unit terkait menjadi salah satu opsi yang kini tengah dipersiapkan.
"Selanjutnya pada saat ini kita akan fokus dengan melakukan penyelamatan, bagaimana kesehatan dari anak-anak kita ini di beberapa rumah sakit. Ini yang kita utamakan," tutur Ketut Sumeda.
Terkait sanksi bagi pengelola, BGN juga telah mengusulkan agar kepala SPPG tersebut segera dicopot dari jabatannya. Langkah ini dilakukan sekaligus untuk mencari pengganti yang lebih kompeten dalam mengelola operasional dapur gizi.
"Ketut menuturkan, BGN juga mengusulkan kepala SPPG tersebut untuk dicopot sekaligus dicari penggantinya," ujar Ketut Sumeda.
Berdasarkan hasil investigasi mendalam di lapangan, ditemukan fakta bahwa jumlah santri yang terdampak mencapai ratusan orang. Data terbaru menunjukkan terdapat sebanyak 512 orang yang mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu yang disediakan.
"Ketut menyebut, berdasarkan data yang sudah dilakukan tim investigasi di lapangan, total yang terdampak keracunan MBG sebanyak 512 orang," ujar Ketut Sumeda.