TIMESINDONESIA.MY.ID - Dikutip dari Kompas.com, perhatian serius terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menjadi sorotan utama bagi pemangku kebijakan di Indonesia. Fokus utama dari desakan ini adalah perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya bagi kelompok yang paling berisiko.
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, secara resmi menyampaikan desakannya agar pemerintah lebih proaktif dalam menangani dampak polusi udara. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah lonjakan kasus penyakit pernapasan akibat asap karhutla.
"Jangan menunggu masyarakat sakit baru negara bergerak. Ketika kualitas udara mulai memburuk, sistem kesehatan harus sudah bersiap," tegas Netty Prasetiyani.
Dalam keterangannya pada Rabu (3/9/2026), Netty menekankan bahwa kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia harus mendapatkan prioritas utama. Mereka dinilai memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah terhadap paparan polusi udara ekstrem.
Pihaknya menyarankan agar pemerintah segera memperkuat sistem peringatan dini yang berkaitan dengan dampak kesehatan. Hal ini dianggap sebagai solusi praktis untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa di wilayah terdampak.
"Perlu ada integrasi data kualitas udara, wilayah terdampak, kepadatan penduduk, hingga tren penyakit seperti gangguan pernapasan," kata Netty Prasetiyani.
Integrasi data tersebut diharapkan mampu memetakan risiko secara lebih akurat di lapangan. Dengan demikian, fasilitas kesehatan dapat lebih siap dalam memberikan pelayanan medis yang dibutuhkan masyarakat saat terjadi bencana asap.
Langkah preventif ini diharapkan menjadi standar operasional baru dalam penanganan bencana lingkungan di masa mendatang. Koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama agar sistem peringatan dini dapat berfungsi secara efektif bagi seluruh warga.