TIMESINDONESIA.MY.ID - Menyikapi maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seorang anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mendesak pemerintah untuk meningkatkan respons dan penanganan yang lebih sigap. Langkah proaktif dinilai krusial untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Kejadian kabut asap yang sempat mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, menjadi sorotan utama. Hal ini mengindikasikan adanya kelambanan dalam respon penanganan karhutla di lapangan.
Anggota Komisi IV DPR, Johan Rosihan, menekankan pentingnya penanganan karhutla yang tidak boleh ditunda hingga asap berdampak langsung pada penerbangan dan kesehatan masyarakat. Tindakan pencegahan dan penanggulangan harus dilakukan secara masif sejak dini.
"Penanganan tidak boleh baru masif setelah asap mengganggu penerbangan dan membahayakan kesehatan masyarakat," ujar Johan Rosihan kepada Kompas, Rabu (19/8/2026).
Ia pun mendorong Pemerintah untuk segera melakukan evaluasi mendalam terhadap efektivitas Satuan Tugas (Satgas) penanganan karhutla yang ada saat ini. Peninjauan ulang ini diharapkan dapat mengidentifikasi kelemahan dan mencari solusi perbaikan.
Menurut pandangan Johan Rosihan, salah satu akar permasalahan yang dihadapi dalam penanganan karhutla adalah belum terbentuknya komando tunggal kebencanaan yang kuat. Komando ini penting untuk memiliki kewenangan yang jelas dalam menggerakkan seluruh sumber daya lintas instansi.
Ia menambahkan, "Salah satu persoalannya adalah belum kuatnya komando tunggal kebencanaan yang memiliki kewenangan jelas untuk menggerakkan seluruh sumber daya lintas instansi."
Situasi di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, yang sempat terganggu oleh kabut asap, menjadi bukti nyata bahwa koordinasi dan kecepatan respons di lapangan masih perlu ditingkatkan secara optimal.
Dikutip dari Kompas, Johan Rosihan menyampaikan urgensi penanganan karhutla secara cepat dan terstruktur. Ia berharap ada perbaikan sistem dan koordinasi agar kejadian serupa dapat diminimalisir di masa mendatang.