TIMESINDONESIA.MY.ID - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) atau Basarnas mencatat angka signifikan terkait keselamatan maritim di Indonesia. Sepanjang periode Januari hingga 15 Agustus 2026, lembaga ini telah menangani sebanyak 601 insiden kecelakaan kapal.

Data ini disampaikan langsung oleh Kepala BNPP/Basarnas, Marsekal Madya M Syafi'i, dalam sebuah forum penting. Rapat kerja ini dihadiri oleh anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia.

Turut serta dalam rapat tersebut adalah Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, dan perwakilan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kehadiran mereka menegaskan kolaborasi antarlembaga dalam menjaga keselamatan transportasi laut.

Dalam pemaparannya, Marsekal Madya M Syafi'i merinci jumlah operasi SAR yang telah dilaksanakan. "Berdasarkan hasil operasi yang kami laksanakan, terhitung mulai bulan Januari sampai 15 Agustus 2026, kami mencatat ada 601 kali operasi SAR (search and rescue) yang dilaksanakan," ujar Syafi'i.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum rapat kerja yang disiarkan melalui kanal YouTube TVR Parlemen pada Rabu, 19 Agustus 2026. Angka ini mencerminkan intensitas aktivitas maritim dan potensi risiko yang dihadapi.

Basarnas juga menyajikan rincian mengenai sub jenis kecelakaan kapal yang menjadi fokus penanganan mereka. Data ini penting untuk evaluasi dan peningkatan strategi pencegahan serta penanganan kecelakaan di laut.

Rincian mengenai berbagai jenis kecelakaan kapal yang ditangani oleh BNPP/Basarnas dipaparkan secara spesifik kepada Komisi V DPR. Informasi ini menjadi dasar diskusi untuk kebijakan penanggulangan bencana maritim.

"Kami mencatat ada 601 kali operasi SAR (search and rescue) yang dilaksanakan," ujar Marsekal Madya M Syafi'i, menekankan kesibukan tim SAR dalam merespons berbagai insiden di perairan Indonesia.

Dikutip dari siaran Youtube TVR Parlemen, Rabu (19/8/2026), data ini menjadi gambaran nyata mengenai tantangan keselamatan di laut yang dihadapi Indonesia.