TIMESINDONESIA.MY.ID - Perjalanan emosional seorang anak tidak hanya dibentuk oleh kebutuhan fisik semata, melainkan juga oleh kualitas interaksi verbal yang mereka terima. Kurangnya ungkapan kasih sayang verbal dari orang tua dapat meninggalkan jejak yang lebih dalam dari sekadar ingatan sesaat, bahkan hingga anak tersebut mencapai usia dewasa.
Pola pengasuhan yang cenderung kikir dalam memberikan pujian atau ungkapan sayang, seperti "Aku sayang kamu" atau "Kamu hebat", dapat secara signifikan memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya. Hal ini menciptakan fondasi emosional yang rapuh.
Anak-anak yang tumbuh tanpa terbiasa mendengar kata-kata positif dari figur orang tua mereka, seringkali mengalami penurunan kepercayaan diri. Mereka mungkin membawa perasaan kurang berharga atau merasa tidak cukup baik dalam berbagai aspek kehidupan mereka.
Dampak ini tidak bersifat sementara, melainkan membekas hingga anak beranjak dewasa, membentuk cara pandang mereka terhadap kemampuan dan nilai diri. Kondisi ini bisa memengaruhi relasi sosial dan profesional di masa depan.
"Dampak dari minimnya ekspresi kasih sayang verbal ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi bisa membekas hingga anak beranjak dewasa," ungkap seorang psikolog. Ia menambahkan bahwa pola pengasuhan yang kurang dalam memberikan pujian atau ungkapan sayang dapat memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri dan orang lain.
Psikolog tersebut juga menjelaskan bahwa anak yang tidak terbiasa mendengar kata-kata positif seperti "Aku sayang kamu" atau "Kamu hebat" dari figur orang tua, cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah. "Mereka mungkin merasa kurang berharga atau tidak cukup baik dalam berbagai aspek kehidupan mereka," tambahnya.
Ketiadaan validasi verbal ini dapat menciptakan pola pikir negatif yang sulit diubah. Anak-anak tersebut mungkin mengembangkan kecenderungan untuk selalu mencari persetujuan eksternal.
Memahami pentingnya kasih sayang verbal adalah kunci untuk membangun fondasi emosional yang kuat pada anak. Ungkapan sederhana dapat memiliki kekuatan transformatif.
Oleh karena itu, para orang tua diingatkan untuk lebih sadar akan dampak kata-kata mereka. Memberikan apresiasi verbal secara konsisten dapat menjadi investasi berharga bagi kesehatan mental anak di masa depan.