TIMESINDONESIA.MY.ID - Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalu dimeriahkan dengan berbagai macam perlombaan tradisional yang penuh semangat. Kegiatan seperti balap karung, tarik tambang, hingga panjat pinang menjadi agenda wajib yang menguji fisik dan kekompakan.

Meskipun penuh kegembiraan, antusiasme tinggi dalam lomba-lomba ini terkadang membuat para peserta melupakan batas kemampuan tubuh mereka. Semangat persaingan seringkali mendorong mereka untuk terus berjuang tanpa memperhatikan kondisi fisik yang mulai menurun.

Dalam situasi euforia perlombaan, sinyal-sinyal peringatan yang dikirimkan oleh tubuh seringkali tidak tertangkap oleh peserta. Dorongan untuk meraih kemenangan bisa lebih kuat daripada kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan saat beraktivitas fisik.

Hal ini diungkapkan oleh Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, dr Oryza Satria, SpOT(K) dari Mayapada Hospital. Beliau menjelaskan bahwa semangat kompetisi yang membara dapat mengalahkan kesadaran peserta terhadap kondisi fisik mereka.

"Keseruan dan semangat persaingan dalam perlombaan tradisional ini terkadang membuat para peserta lupa diri," ungkap dr Oryza Satria.

Beliau menambahkan bahwa demi meraih kemenangan, banyak yang nekat memaksakan diri bahkan ketika tubuh sudah memberikan sinyal kelelahan atau ketidaknyamanan. Hal ini sangat berisiko bagi kesehatan.

"Demi meraih kemenangan, banyak yang nekat memaksakan diri bahkan ketika tubuh sudah memberikan sinyal kelelahan atau ketidaknyamanan," kata dr Oryza Satria.

Situasi euforia ini, menurut dr Oryza Satria, seringkali membuat sinyal-sinyal peringatan dari tubuh tidak tertangkap oleh peserta. Kesadaran akan kondisi fisik menjadi terabaikan.

"Rasa semangat kompetisi bisa mengalahkan kesadaran akan kondisi fisik," jelas dr Oryza Satria.