TIMESINDONESIA.MY.ID - Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali memberikan dampak signifikan terhadap sektor penerbangan di Indonesia. Sebanyak lima bandara terpaksa menghentikan operasionalnya akibat sebaran abu vulkanik yang membahayakan keselamatan penerbangan.
Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengambil langkah strategis untuk merespons situasi ini. Dikutip dari Kompas.com, operasi modifikasi cuaca (OMC) tetap dipersiapkan demi meminimalisir dampak abu vulkanik di wilayah terdampak.
Proses pelaksanaan operasi tersebut kini menghadapi kendala teknis karena penutupan sejumlah bandara. Oleh sebab itu, otoritas terkait memutuskan untuk menggeser titik keberangkatan pesawat ke lokasi yang lebih aman dan tidak terdampak.
"Untuk operasi modifikasi cuaca, saya sudah berkoordinasi dengan Kepala BNPB. Nanti mungkin pelaksanaannya digeser, apakah dari Halim atau dari Husein Sastranegara," ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal.
Langkah ini diambil guna memastikan bahwa upaya mitigasi bencana tetap dapat berjalan optimal. BMKG berkomitmen agar operasional pesawat untuk modifikasi cuaca tidak terhambat oleh kondisi cuaca ekstrem maupun sebaran debu vulkanik.
"Jadi, tetap dilakukan dari bandara yang tidak terdampak penutupan akibat abu vulkanik," kata Teuku Faisal.
Berdasarkan data terkini, penutupan bandara tersebut dilakukan sebagai prosedur standar keselamatan. Pihak otoritas penerbangan terus memantau pergerakan abu vulkanik di ruang udara secara berkala.
Hingga Minggu (6/9/2026) pukul 10.25 WIB, tercatat ada lima bandara yang harus dihentikan operasionalnya. Langkah antisipasi ini dilakukan untuk menghindari kerusakan mesin pesawat serta risiko lain yang ditimbulkan oleh abu vulkanik.
Pemerintah mengimbau masyarakat dan pihak maskapai untuk terus memantau perkembangan informasi resmi. Koordinasi antarlembaga terus diperkuat agar situasi darurat akibat erupsi ini dapat segera teratasi dengan baik.