TIMESINDONESIA.MY.ID - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, telah menyampaikan proyeksi mengenai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk tahun 2027. Proyeksi ini didasarkan pada Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF).

Said Abdullah memperkirakan bahwa defisit APBN pada tahun 2027 akan berada di kisaran 2,4 persen. Angka ini merupakan bagian dari rentang proyeksi yang telah ditetapkan.

Ia mengakui bahwa keinginan pemerintah untuk mencapai defisit nol persen merupakan cita-cita yang sangat positif. Namun, ia juga menekankan bahwa realisasi target tersebut sulit dicapai dalam waktu dekat.

Hal ini disebabkan oleh berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi di dalam negeri. Selain itu, dinamika geopolitik global juga turut memengaruhi kemampuan pencapaian defisit nol persen.

"Keinginan defisit nol persen itu manusiawi karena setiap presiden ingin punya legacy," ujar Said Abdullah dalam sebuah tayangan video yang diterima Kompas.com pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Lebih lanjut, ia menyoroti pengaruh kebijakan moneter internasional, khususnya sikap "hawkish" dari The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat). Faktor-faktor eksternal ini turut membentuk perhitungan defisit.

"Namun, melihat faktor eksternal geopolitik hingga sikap hawkish The Fed (Bank Sentral AS), hitungan kami di Badan Anggaran defisit itu sekitar Rp 669 triliun," ungkap Said Abdullah.

Angka Rp 669 triliun tersebut, menurut Said Abdullah, mengindikasikan batas atas defisit yang ditargetkan oleh pemerintah. Batas atas ini berada dalam rentang 1,8 hingga 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Said Abdullah menjelaskan bahwa jika pemerintah tidak mengambil batas atas tersebut, kemampuan untuk memfasilitasi penerimaan negara mungkin tidak akan mencukupi. Oleh karena itu, strategi penerimaan negara menjadi krusial.