TIMESINDONESIA.MY.ID - Saat seseorang memutuskan untuk menjalani diet ketat, perubahan drastis pada pola makan seringkali memicu munculnya berbagai efek samping yang mengganggu. Dua keluhan yang kerap dialami adalah bau mulut yang tidak sedap dan sariawan yang berulang.
Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dan kekhawatiran bagi mereka yang sedang berupaya mencapai target berat badan ideal. Banyak yang bertanya-tanya mengapa gangguan pada rongga mulut ini bisa terjadi di tengah upaya menjaga kesehatan.
Menanggapi fenomena ini, seorang praktisi diet, dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, memberikan penjelasan mendalam. Beliau menegaskan bahwa masalah pada kebersihan gigi dan mulut bukanlah satu-satunya penyebab utama.
Menurut dr. Yaze, pola makan yang tidak seimbang selama masa diet memegang peranan penting dalam memunculkan keluhan tersebut. Perubahan asupan nutrisi secara signifikan dapat berdampak langsung pada kesehatan rongga mulut.
"Salah satu pemicu bau mulut saat diet ketat adalah proses pemecahan lemak sebagai sumber energi utama ketika asupan karbohidrat sangat terbatas," terang dr. Yaze. Fenomena ini dikenal dalam dunia medis sebagai fase ketosis.
Dalam fase ketosis, tubuh mulai membakar cadangan lemak untuk memenuhi kebutuhan energi. Proses ini menghasilkan senyawa keton yang memiliki aroma khas, yang kemudian dapat tercium sebagai bau mulut.
Selain bau mulut, sariawan yang muncul berulang juga sering dikaitkan dengan diet ketat. Hal ini bisa terjadi akibat kekurangan nutrisi tertentu yang penting untuk menjaga kesehatan mukosa mulut.
"Gangguan pada rongga mulut tersebut tidak selalu disebabkan oleh kebersihan gigi yang buruk," ujar dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK.
"Pola makan yang tidak seimbang selama diet ternyata memiliki peran signifikan," tambah dr. Yaze.