TIMESINDONESIA.MY.ID - Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah proaktif untuk memberikan dukungan yang komprehensif bagi anak-anak yang terdampak gempa bermagnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dukungan ini difokuskan pada pemulihan kondisi psikologis dan penyediaan sarana edukasi di tengah situasi darurat.
Dua fasilitas penting, yakni layanan pemulihan trauma (trauma healing) dan perpustakaan, kini tersedia bagi para anak-anak yang mengungsi. Fasilitas ini ditempatkan di lokasi strategis guna menjangkau sebanyak mungkin anak yang membutuhkan.
Lokasi spesifik penyediaan layanan ini berada di posko pengungsian GOR Samador, yang berlokasi di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Keberadaan posko ini menjadi pusat kegiatan pemulihan bagi warga, khususnya anak-anak.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa penyediaan layanan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kebutuhan mendasar para pengungsi. Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak yang harus beradaptasi dengan aktivitas sehari-hari di lingkungan pengungsian.
"Kegiatan ini menjadi bentuk perhatian terhadap kebutuhan pengungsi, khususnya anak-anak yang harus menjalani aktivitas sehari-hari di lokasi pengungsian," ujar Berton SP Panjaitan.
Lebih lanjut, Berton menekankan bahwa penanganan bencana tidak semata-mata berfokus pada kebutuhan fisik para korban. Aspek psikologis dan sosial juga menjadi perhatian utama dalam upaya pemulihan pasca-bencana.
"Kehadiran perpustakaan keliling dan trauma healing di GOR Samador menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis dan sosial masyarakat terdampak," kata Berton SP Panjaitan, dikutip dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.
Dalam pelaksanaan kegiatan trauma healing, para pendamping berperan aktif dalam menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Mereka mengajak anak-anak untuk berinteraksi dan bermain bersama sebagai bagian dari proses penyembuhan.
"Dalam kegiatan trauma healing, pendamping mengajak anak-anak berinteraksi dan bermain bersama," jelas Berton SP Panjaitan.