TIMESINDONESIA.MY.ID - Kasus keracunan yang menimpa ratusan santri di Kalitengah, Sidoarjo, Jawa Timur, kembali memicu perhatian publik. Peristiwa ini terjadi di tengah berlangsungnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah.

Dikutip dari Kompas.com, insiden ini menambah deretan catatan panjang mengenai keamanan konsumsi makanan dalam program tersebut. Kondisi ini pun menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua siswa dan pihak sekolah.

Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, memberikan catatan kritis terkait fenomena ini. Berdasarkan data yang ia himpun, jumlah korban keracunan terus bertambah secara signifikan.

"Sejak tahun 2025, sudah ada 43.838 orang yang mengalami keracunan akibat program MBG yang tersebar di 36 provinsi," ungkap Ubaid Matraji.

Ubaid menyoroti kegagalan pemerintah dalam melakukan evaluasi menyeluruh setelah masa libur sekolah berakhir. Menurutnya, langkah perbaikan yang seharusnya dilakukan belum memberikan dampak positif di lapangan.

"Kalau setelah libur panjang, setelah evaluasi, setelah dapur ditutup, kasus keracunan justru kembali marak, maka kita harus berani mengatakan: evaluasinya gagal," ujar Ubaid Matraji.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketika anak-anak kembali beraktivitas di sekolah, kasus keracunan masih terus terjadi. Hal ini mengindikasikan adanya kendala teknis atau pengawasan yang belum optimal dalam rantai distribusi makanan.

JPPI mendesak agar pemerintah segera meninjau ulang standar operasional prosedur penyediaan makanan. Langkah nyata diperlukan agar program MBG tidak lagi membahayakan kesehatan para peserta didik di seluruh Indonesia.

Follow timesindonesia.my.id
Follow on Google