TIMESINDONESIA.MY.ID - Kualitas udara di wilayah Kalimantan Timur dilaporkan mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini dipicu oleh munculnya kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik.

Dikutip dari Kompas.com, dampak dari buruknya kondisi udara tersebut mulai dirasakan oleh masyarakat setempat. Peningkatan jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan.

Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim), jumlah kasus ISPA telah mencapai 9.499 orang. Data ini tercatat hingga memasuki pekan ke-34 pada tahun 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, dr. Jaya Mualimin, memberikan keterangan resmi terkait kondisi kesehatan warga di wilayahnya. Beliau menjelaskan bahwa peningkatan ini merupakan respon atas kondisi lingkungan yang kurang sehat saat ini.

"Memang ada peningkatan kasus, tetapi peningkatannya jika dibandingkan dengan Januari, Februari, dan Maret itu kecil. Masih seputar sekitar 9.499 kasus," ujar dr. Jaya Mualimin.

Pihak Dinas Kesehatan menyatakan bahwa meskipun angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan, situasi saat ini belum dikategorikan sebagai lonjakan yang signifikan. Pemantauan ketat terus dilakukan guna memastikan penanganan medis tetap berjalan optimal.

Sebagai perbandingan, pada awal tahun 2026, kasus ISPA di Kalimantan Timur sempat tercatat berada di angka 9.300 kasus. Data tersebut menjadi acuan bagi dinas terkait dalam melihat tren kesehatan masyarakat di tengah musim kemarau.

"Hingga memasuki pekan ke-34 tahun 2026, kasus ISPA di Kaltim tercatat sekitar 9.499 kasus," kata dr. Jaya Mualimin.

Hingga kini, pemerintah daerah terus berupaya melakukan mitigasi terhadap dampak kabut asap. Masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk menghindari risiko pernapasan.