TIMESINDONESIA.MY.ID - Dikutip dari sumber media terkait, sebanyak 33.785 peserta pendidikan dan pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia telah resmi dinyatakan lulus pada 31 Juli 2026. Mereka dipersiapkan untuk menjadi manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih serta Kampung Nelayan Merah Putih.

Proses penutupan pelatihan tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Letnan Jenderal TNI Tri Budi Utomo. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya menjaga nilai disiplin, loyalitas, serta semangat pengabdian yang telah ditempa selama 45 hari masa pendidikan.

"Agar nilai disiplin, loyalitas, dan semangat pengabdian yang dibentuk selama 45 hari pelatihan terus dijaga dalam menjalankan tugas," ujar Letnan Jenderal TNI Tri Budi Utomo.

Pemerintah sebelumnya telah menjanjikan bahwa proses penempatan para manajer tersebut akan mulai dilakukan secara bertahap. Rencana awal menyebutkan bahwa penempatan dijadwalkan terlaksana pada pekan pertama bulan Agustus 2026.

Namun, realita di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda hingga memasuki awal September 2026. Sebanyak 29.830 lulusan yang telah melalui seleksi ketat kini masih menanti kepastian mengenai lokasi penempatan kerja mereka.

Situasi ini menjadi sorotan karena proses pelatihan tersebut dinilai cukup berat, bahkan tercatat memakan korban jiwa sebanyak lima orang peserta. Para lulusan saat ini merasa terkatung-katung tanpa adanya penjelasan resmi terkait penundaan tersebut.

Menanggapi keterlambatan penempatan ini, Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah, memberikan penjelasan singkat kepada publik. Beliau meminta para peserta untuk tetap tenang dan bersabar menghadapi situasi yang terjadi.

"Sabar, sabar. Enggak ada kendala. Itu sesuai on schedule," kata Farida Farichah.

Lebih lanjut, beliau mengklaim bahwa keterlambatan tersebut terjadi karena adanya permintaan dari banyak calon manajer. Banyak peserta yang mengharapkan agar mereka bisa ditempatkan di daerah asal masing-masing.