TIMESINDONESIA.MY.ID - Fenomena perbedaan diagnosis usus buntu yang dialami oleh selebgram Fahira Almira baru-baru ini menarik perhatian publik. Kisahnya yang menjalani pemeriksaan di Indonesia dan Malaysia menimbulkan pertanyaan tentang kemungkinan adanya perubahan kondisi medis seseorang.

Perbedaan diagnosis ini terjadi ketika Fahira Almira menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan. Ia dilaporkan menerima diagnosis usus buntu saat berada di Indonesia.

Namun, situasi tersebut berlanjut dengan temuan yang berbeda saat ia berobat di Malaysia. Di sana, tidak ditemukan adanya kondisi usus buntu seperti diagnosis sebelumnya.

Menanggapi fenomena ini, seorang pakar medis ternama memberikan penjelasannya. Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, seorang spesialis penyakit dalam subspesialis Konsultan Gastroentologi dan Hepatologi, turut memberikan pandangannya.

"Fenomena seperti ini bisa saja terjadi karena berbagai faktor, termasuk perubahan kondisi fisik pasien itu sendiri," ujar Prof Dr dr Ari Fahrial Syam.

Beliau menjelaskan bahwa usus buntu, atau apendisitis, adalah kondisi yang dapat berkembang dengan cepat. Perubahan status pasien dari satu waktu ke waktu lain sangat mungkin terjadi.

"Dalam rentang waktu yang singkat, kondisi usus buntu bisa saja membaik atau justru memburuk, tergantung pada respons tubuh dan penanganan yang diberikan," kata Prof Dr dr Ari Fahrial Syam.

Selain itu, perbedaan dalam metode diagnosis dan interpretasi hasil pemeriksaan antar fasilitas medis juga bisa menjadi salah satu penyebab. Setiap rumah sakit mungkin memiliki protokol dan teknologi yang sedikit berbeda.

"Kadang-kadang, apa yang terlihat jelas pada satu pemeriksaan mungkin memerlukan konfirmasi lebih lanjut atau terlihat berbeda pada pemeriksaan lain dengan teknologi yang berbeda pula," tambah Prof Dr dr Ari Fahrial Syam.