TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu, 16 Agustus 2026, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat setempat. Guncangan dahsyat ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga memicu serangkaian peristiwa yang berdampak luas.
Peristiwa alam ini mengakibatkan sedikitnya 47 orang dilaporkan meninggal dunia. Angka ini menjadi pengingat akan kekuatan alam yang tidak terduga dan kerentanan infrastruktur di wilayah terdampak.
Gempa utama tersebut ternyata diikuti oleh gelombang gempa susulan yang signifikan, tercatat sebanyak 341 kali aktivitas. Hal ini menambah ketidakpastian dan kecemasan bagi warga yang mencoba bangkit dari trauma awal.
"Guncangan gempa yang telah diikuti oleh 341 kali aktivitas gempa susulan ini memicu dampak kehancuran yang signifikan," demikian disampaikan oleh Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam sebuah keterangan resminya pada Minggu (16/8/2026).
Analisis sebaran korban jiwa menunjukkan bahwa Kabupaten Manggarai menjadi daerah yang paling terpukul, dengan mencatat 23 jiwa meninggal dunia. Menyusul di belakangnya adalah Manggarai Timur yang kehilangan 17 warganya.
Korban jiwa lainnya tersebar di beberapa kabupaten lain, di mana Kabupaten Sikka melaporkan 4 korban, Manggarai Barat 1 korban, Ende 1 korban, dan Nagekeo juga mencatat 1 korban jiwa. Kehilangan ini tentu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Selain korban jiwa, gempa ini juga menyebabkan sejumlah besar warga mengalami luka-luka. Setidaknya 101 warga dilaporkan menderita luka dengan tingkat keparahan yang bervariasi, membutuhkan penanganan medis segera.
Dampak kerusakan fisik akibat gempa ini sangat masif. Tercatat sebanyak 1.357 rumah dilaporkan mengalami kerusakan, sementara 93 fasilitas pendidikan juga tidak luput dari kehancuran. Kerusakan ini tentu akan menghambat aktivitas belajar mengajar dan memerlukan upaya rekonstruksi yang besar.
Situasi ini memaksa ribuan warga untuk meninggalkan rumah mereka dan mencari tempat berlindung yang aman. Ribuan warga terpaksa mengungsi, menambah kompleksitas penanganan bencana yang harus segera dilakukan oleh pihak berwenang dan relawan.