TIMESINDONESIA.MY.ID - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, menyampaikan peringatan penting mengenai potensi peningkatan jumlah korban akibat gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Peringatan ini disampaikan mengingat masih dalam tahap awal penanganan bencana.
Menurut pandangan Jusuf Kalla, data korban yang tercatat pada hari pertama kejadian bencana gempa bumi seringkali belum mencerminkan angka sebenarnya. Hal ini dikarenakan masih ada kemungkinan warga yang tertimpa reruntuhan bangunan atau belum berhasil ditemukan.
"Karena gempanya cukup besar, biasanya di awal memang sedikit yang dinyatakan meninggal," ujar Jusuf Kalla, merujuk pada situasi awal pasca-gempa.
Beliau menambahkan bahwa banyak warga yang mungkin tertimpa bangunan, dinyatakan hilang, atau belum terdeteksi keberadaannya. Oleh karena itu, jumlah korban diprediksi akan terus bertambah seiring waktu.
"Tapi, banyak tentunya yang orang tertimpa, hilang, dan macam-macam. Pasti nanti lebih banyak dari itu," lanjut Jusuf Kalla.
Untuk memperkuat analisanya, Jusuf Kalla mengingatkan kembali pengalaman pahit saat penanganan bencana tsunami Aceh pada tahun 2004. Kejadian tersebut menjadi pelajaran berharga mengenai dinamika penanggulangan bencana.
Ia menjelaskan bahwa jumlah korban yang dilaporkan pada hari pertama pasca-tsunami Aceh jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan data akhir yang terkumpul setelah proses pencarian dan evakuasi berlangsung secara intensif.
Pernyataan ini disampaikan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dan dikutip dari keterangan video yang beredar. Pengalaman masa lalu ini menjadi dasar keyakinan Jusuf Kalla akan adanya penambahan jumlah korban di NTT.
Inti dari peringatan Jusuf Kalla adalah pentingnya kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi potensi peningkatan jumlah korban. Hal ini menekankan perlunya upaya pencarian dan penyelamatan yang berkelanjutan untuk memastikan semua warga terdampak dapat teridentifikasi dan tertangani dengan baik.