TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi dahsyat mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menimbulkan dampak yang signifikan. Guncangan kuat ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menyebabkan kerusakan parah pada bangunan dan memaksa ribuan warga untuk mengungsi demi keselamatan.

Hingga Minggu, 16 Agustus, upaya penanganan darurat masih terus dilakukan di berbagai area yang terdampak bencana alam tersebut. Berbagai fakta terbaru mengenai gempa NTT mulai terungkap, termasuk jumlah korban jiwa dan respons pemerintah dalam memberikan bantuan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang melanda NTT telah mencapai 53 orang. Angka ini merupakan akumulasi dari berbagai wilayah yang terdampak langsung oleh gempa.

Korban jiwa tersebut tersebar di beberapa kabupaten di NTT, namun konsentrasi terbanyak ditemukan di wilayah Manggarai dan Manggarai Timur.

"BNPB mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa NTT mencapai 53 orang," demikian informasi yang dihimpun dari sumber resmi.

Penanganan pasca-gempa terus menjadi prioritas utama pemerintah. Berbagai upaya telah dikerahkan untuk memberikan bantuan kepada para korban, termasuk penyediaan kebutuhan dasar dan penanganan medis.

Pemerintah melalui berbagai instansi terkait terus berkoordinasi untuk memastikan bantuan sampai ke tangan para pengungsi dan warga yang membutuhkan.

"Hingga Minggu (16/8), penanganan masih berlangsung di sejumlah wilayah terdampak," ujar perwakilan BNPB dalam keterangan tertulisnya.

Kerusakan bangunan yang terjadi akibat gempa tersebut bervariasi, mulai dari rumah warga hingga fasilitas umum. Hal ini menambah beban para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.