TIMESINDONESIA.MY.ID - Bareskrim Polri berhasil mengungkap modus kejahatan perdagangan orang (TPPO) yang sangat meresahkan, yakni melalui skema "pengantin pesanan". Modus ini secara khusus menyasar perempuan warga negara Indonesia (WNI) dengan janji manis yang berujung pada penipuan.

Para perempuan Indonesia ini direkrut dengan iming-iming untuk dinikahkan dengan warga negara asing. Harapannya, pernikahan tersebut akan membawa mereka pada kehidupan yang jauh lebih baik dan sejahtera di negeri orang.

Namun, setelah berhasil diberangkatkan ke luar negeri, janji-janji tersebut sirna seketika. Realitas yang dihadapi para korban sangat berbeda dari apa yang dibayangkan sebelumnya.

Kombes Yolanda Evalyn Sebayang, Kasubdit 3 Direktorat Tindak Pidana Pelindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Dittipid PPA-PPO) Bareskrim, menjelaskan kronologi modus operandi ini. Ia menyatakan bahwa para perempuan direkrut dengan bujuk rayu yang menggiurkan.

"Modus operandi yang selama ini terjadi adalah merekrut perempuan dengan iming-iming menikah dengan warga negara asing," ujar Kombes Yolanda Evalyn Sebayang. Ia menambahkan bahwa janji tersebut meliputi pemberian uang dan fasilitasi kehidupan yang lebih baik.

Lebih lanjut, Kombes Yolanda Evalyn Sebayang merinci bagaimana para korban dijanjikan akan difasilitasi untuk menikah dan diberangkatkan ke luar negeri. Proses ini dirancang sedemikian rupa agar calon korban tergiur dan bersedia.

Namun, kenyataannya, para korban justru diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi setibanya di negara tujuan. Mereka tidak mendapatkan kehidupan layak seperti yang dijanjikan, melainkan menjadi objek eksploitasi.

"Dan iming-iming itu mereka akan memberikan uang dengan kehidupan yang lebih baik, dan korban akan difasilitasi untuk menikah dan berangkat ke luar negeri," kata Kombes Yolanda Evalyn Sebayang dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Alih-alih hidup sebagai istri yang dimuliakan, para perempuan ini justru dipaksa melakukan pekerjaan rumah tangga layaknya seorang pembantu. Beban kerja fisik yang berat harus mereka pikul setiap hari.