TIMESINDONESIA.MY.ID - Langit di atas Kota Pontianak, Kalimantan Barat, perlahan tampak meredup tersaput kabut asap yang kian menebal. Suasana kota yang biasanya cerah kini dipenuhi partikel pekat yang membatasi jarak pandang dan mengubah nuansa udara siang hari.
Kondisi perubahan lingkungan tersebut memicu kekhawatiran mendalam bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. Kualitas udara di ibu kota Kalimantan Barat ini tercatat mengalami penurunan secara drastis dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data pemantauan pada Jumat, 21 Agustus 2026, sekitar pukul 13.00 waktu setempat, indeks standar kualitas udara (AQI) di Pontianak menyentuh angka 244. Angka tersebut secara resmi menempatkan kondisi atmosfer kota ke dalam tingkatan yang masuk kategori "sangat tidak sehat".
Tingginya angka indeks tersebut ditandai dengan perubahan indikator visual pemantauan lingkungan yang kini didominasi warna ungu. Sinyal warna tersebut merupakan peringatan dini ilmiah bahwa udara di kawasan sekitar berpotensi membawa dampak buruk bagi kesehatan pernapasan.
Dikutip dari TREN.HOTNEWS.ID, situasi kabut asap yang kian tebal ini menjadi ancaman nyata bagi kebugaran masyarakat, terkhusus bagi kalangan pelajar yang tetap harus menjalankan aktivitas belajar.
Kelompok anak usia sekolah dinilai menjadi salah satu pihak yang paling rentan terpapar partikel polusi saat beraktivitas di luar rumah. Paparan asap secara terus-menerus dikhawatirkan dapat memicu gangguan pernapasan akut jika tidak diantisipasi dengan perlindungan memadai.
Melihat kondisi udara yang berada pada zona peringatan ungu tersebut, kesadaran warga dalam menjaga kesehatan diri menjadi hal yang sangat penting. Penggunaan masker dan pembatasan kegiatan luar ruangan menjadi langkah pencegahan yang sangat dianjurkan.
Masyarakat Pontianak kini terus memantau perkembangan situasi udara sembari berharap ketebalan kabut asap dapat segera mereda agar aktivitas harian dapat kembali berjalan dengan aman.