TIMESINDONESIA.MY.ID - Keinginan kuat dan terus-menerus untuk mengonsumsi makanan atau minuman manis seringkali dianggap sekadar kebiasaan ringan. Namun, kondisi ini bisa menjadi indikator penting bahwa tubuh telah mengembangkan ketergantungan terhadap asupan gula.

Fenomena ini dapat memicu berbagai respons tubuh yang perlu dikenali lebih dini. Memahami sinyal-sinyal ini adalah langkah awal untuk mengelola pola makan yang lebih sehat.

Spesialis gizi klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengidentifikasi beberapa gejala awal yang secara jelas menunjukkan tubuh mulai terbiasa atau bahkan mengalami ketergantungan pada kadar gula yang tinggi. Mengenali gejala ini penting untuk intervensi yang tepat.

Salah satu tanda paling umum adalah perasaan tidak puas setelah menyantap hidangan utama. Ketidakpuasan ini biasanya muncul jika asupan manis belum menyertai atau mengikuti makanan pokok.

"Misalnya kayak habis makan terus ngerasanya pengin makan manis lagi. Kalau enggak diturutin kayak masih ada yang kurang," terang dr. Yaze saat sesi live TikTok detikHealth pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Pernyataan ini menggarisbawahi bagaimana pola makan yang mengutamakan rasa manis bisa menciptakan siklus ketergantungan. Tubuh seolah membutuhkan tambahan gula untuk merasa lengkap.

Kondisi ini perlu ditanggapi secara serius demi kesehatan jangka panjang. Mengabaikan sinyal-sinyal ini dapat berujung pada masalah kesehatan yang lebih kompleks di kemudian hari.

Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk lebih peka terhadap respons tubuh mereka terhadap asupan gula. Edukasi mengenai dampak gula berlebih juga menjadi krusial.

Dikutip dari TREN.HOTNEWS.ID, pemahaman mendalam tentang ketergantungan gula serta strategi penanganannya sangat dibutuhkan. Langkah-langkah pengurangan yang bertahap dapat membantu tubuh beradaptasi.