TIMESINDONESIA.MY.ID - Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang berlokasi di Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua, kini telah menjelma menjadi lebih dari sekadar titik persimpangan bagi warga Indonesia dan Papua Nugini. Fasilitas ini secara tak terduga berkembang menjadi sebuah pusat pelayanan kesehatan masyarakat lintas negara.

Keberadaan klinik di dalam kompleks PLBN Skouw telah menarik perhatian warga dari negara tetangga, Papua Nugini, untuk mendapatkan pertolongan medis ketika mereka mengalami keluhan kesehatan. Fenomena ini menunjukkan peran penting PLBN Skouw dalam memberikan akses kesehatan bagi komunitas perbatasan.

Maya Purba, yang menjabat sebagai Koordinator Wilayah Kerja PLBN Skouw dari Balai Karantina Kesehatan (BKK) Jayapura, membenarkan tingginya angka kunjungan pasien dari negara tetangga. Ia mencatat bahwa warga Papua Nugini cukup aktif memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia.

Dalam kurun waktu satu bulan, jumlah pasien yang berasal dari Papua Nugini tercatat bisa mencapai angka 20 hingga 30 orang. Angka ini menunjukkan adanya kebutuhan yang signifikan akan layanan kesehatan di wilayah perbatasan.

"Kemarin tuh bulan Juli, itu kami sampai 116 (pasien dari Papua Nugini)," ucap Maya Purba sambil tertawa saat ditemui Kompas.com di PLBN Skouw, Senin (17/8/2026).

Ia menambahkan, tingginya frekuensi kedatangan pasien dari Papua Nugini bahkan membuat mereka memberikan komentar unik. "Jadi kadang mereka bilang, 'Wah, sudah seperti Puskesmas nih,'" ujar Maya Purba.

Situasi ini menggarisbawahi fungsi ganda PLBN Skouw, yang tidak hanya menjalankan tugas pengawasan perbatasan, tetapi juga berkontribusi dalam pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat di kedua sisi perbatasan negara.

Peran PLBN Skouw sebagai fasilitas kesehatan lintas negara ini menjadi bukti nyata kolaborasi dan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat di wilayah perbatasan. Hal ini juga menunjukkan pentingnya keberadaan fasilitas kesehatan yang mudah diakses oleh semua warga, tanpa memandang batas negara.

Dikutip dari Kompas.com, fenomena ini menyoroti bagaimana sebuah pos lintas batas dapat bertransformasi menjadi pusat vital yang melayani kebutuhan esensial warganya.