TIMESINDONESIA.MY.ID - Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan komitmen kuat untuk melanjutkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.
Program MBG, yang berfokus pada penyediaan makanan bergizi bagi anak-anak dan ibu hamil, dipandang sebagai investasi krusial dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Keberlanjutannya diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi generasi mendatang.
Ashabul Kahfi, selaku Kapoksi Komisi IX DPR dari Fraksi PAN, memberikan apresiasi mendalam terhadap pandangan Presiden Prabowo mengenai pentingnya kelanjutan program MBG. Ia melihat program ini sebagai strategi vital untuk masa depan bangsa.
"Saya mengapresiasi pandangan Bapak Presiden bahwa Program Makan Bergizi Gratis perlu terus dilanjutkan. MBG merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia kita," ujar Ashabul Kahfi kepada awak media pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Namun, Kahfi juga menekankan bahwa keberlanjutan MBG harus dibarengi dengan evaluasi dan perbaikan yang cermat. Efisiensi dalam pelaksanaan program menjadi kunci agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh penerima.
"Tetapi saya juga sepakat bahwa kelanjutannya harus disertai perbaikan dan efisiensi yang serius," tambah Ashabul Kahfi. Pernyataan ini menggarisbawahi perlunya pendekatan yang lebih matang dalam implementasi program.
Meskipun memberikan dukungan penuh terhadap kelanjutan MBG, Ashabul Kahfi menyampaikan adanya catatan kritis mengenai aspek pelaksanaannya. Ia berharap ada penyesuaian strategis agar program ini semakin efektif.
Menurut pandangannya, orientasi program MBG ke depan seharusnya mengalami pergeseran signifikan. Fokus tidak lagi hanya pada kuantitas penerima manfaat atau jumlah Sekolah Penyedia Pangan Gizi (SPPG).
Pergeseran orientasi ini diarahkan pada peningkatan kualitas program secara keseluruhan dan terukur. Dampak nyata bagi kesehatan dan gizi penerima manfaat menjadi tolok ukur keberhasilan yang utama.