TIMESINDONESIA.MY.ID - Pemerintah Indonesia terus berupaya menangani bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kabut asap pekat di sejumlah wilayah. Upaya mitigasi kini difokuskan pada pemadaman api serta pembersihan udara dari polusi asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, memimpin langsung rapat koordinasi penanganan karhutla yang berlangsung di Lanud Supadio, Kalimantan Barat, pada Jumat (4/9/2026). Pertemuan ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi lapangan dan menentukan strategi penanganan yang paling efektif.

Dikutip dari Kompas.com, Suharyanto menjelaskan bahwa kondisi kabut asap saat ini memang menunjukkan adanya penurunan intensitas. Namun, ia menegaskan bahwa pembersihan total udara dari asap hanya bisa dicapai secara maksimal melalui bantuan alam.

"Jadi memang terjadi penurunan, meskipun sangat pekat ini apa, asapnya ya, kabutnya, ini bisa-bisa selesai itu nanti kalau sudah datang hujan yang deras," ujar Suharyanto.

Untuk mempercepat proses tersebut, pihak BNPB tengah merencanakan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini diambil sebagai respons atas kondisi cuaca yang belum menunjukkan tanda-tanda hujan secara alami di lokasi terdampak.

"Suharyanto pun berharap Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dapat bisa segera digelar di sejumlah daerah terdampak karhutla," ujar Suharyanto.

Rencana operasi ini didukung oleh data meteorologi yang mengindikasikan adanya potensi awan hujan di wilayah Kalimantan Barat. Informasi tersebut sebelumnya disampaikan oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, kepada pihak BNPB.

"Dia mendapat informasi dari Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bahwa di Kalimantan Barat ada potensi awan hujan di awal bulan ini," ujar Suharyanto.

Suharyanto menargetkan pelaksanaan operasi tersebut dapat segera dilakukan dalam waktu dekat guna mengoptimalkan potensi awan yang ada. Pemerintah berharap langkah ini dapat memberikan dampak positif bagi kualitas udara di wilayah tersebut.