TIMESINDONESIA.MY.ID - Selat Sunda menyimpan memori kelam yang tak pernah pudar dari ingatan publik hingga saat ini. Tepat pada 27 Agustus 1883, sebuah peristiwa geologi besar mengubah wajah dunia selamanya.

Kala itu, Gunung Krakatau meletus dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Ledakan tersebut menghancurkan sebagian besar struktur gunung dan memicu guncangan hebat di wilayah sekitarnya.

Peristiwa erupsi tersebut tercatat dalam sejarah sebagai salah satu letusan gunung api paling mematikan yang pernah terjadi. Dampak kehancurannya pun masih menyisakan catatan penting bagi para ahli geologi.

Namun, dari sisa kehancuran tersebut, alam menunjukkan proses regenerasinya. Muncul sebuah gunung baru yang kini kita kenal dengan sebutan Gunung Anak Krakatau.

Di balik fenomena alam yang terus berkembang, terdapat sosok pria berusia 55 tahun bernama Suwarno. Ia mendedikasikan kesehariannya untuk mengamati perubahan aktivitas gunung tersebut dari wilayah Lampung Selatan.

"Ada satu tanggal yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan tentang Selat Sunda, yakni 27 Agustus 1883," ujar Suwarno.

"Itulah hari ketika Krakatau meledak dahsyat, menghancurkan sebagian besar tubuhnya dan mengguncang kawasan Selat Sunda," kata Suwarno.

"Letusan itu menjadi salah satu erupsi gunung api paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah," tutur Suwarno.

"Krakatau telah berubah, dan dari kehancuran itu muncul gunung baru yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau," ucap Suwarno.