TIMESINDONESIA.MY.ID - Dikutip dari KOMPAS.com, peristiwa meninggalnya Serda Ahmad Muzammul Farisa tengah menjadi perhatian masyarakat luas. Anggota TNI tersebut mengembuskan napas terakhir dengan adanya dugaan keterkaitan unsur tindak kekerasan fisik.
Peristiwa penganiayaan tersebut diduga melibatkan oknum senior korban di lingkungan kedinasan militer. Insiden ini disinyalir terjadi saat prajurit muda tersebut sedang menjalankan tugas di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Sebelum dinyatakan mengembuskan napas terakhir, korban sempat dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh pertolongan intensif. Sayangnya, upaya penanganan darurat yang dilakukan tim medis tidak berhasil menyelamatkan nyawa prajurit tersebut.
"Pihak keluarga menerima kabar bahwa almarhum telah berada di unit gawat darurat sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Kamis sekitar pukul 05.00 WIB," tutur salah satu perwakilan keluarga almarhum.
Usai kepastian kabar duka tersebut, jenazah korban langsung dipulangkan ke kampung halamannya untuk disemayamkan. Korban dibawa menuju rumah duka yang berlokasi di wilayah Magetan, Jawa Timur.
Proses pemakaman almarhum dilangsungkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat yang posisinya tidak jauh dari kediaman keluarga. Pemakaman berlangsung pada Kamis (10/9/2026) malam dengan dihadiri para kerabat serta warga sekitar.
Prosesi pemakaman Serda Ahmad Muzammul Farisa tersebut diketahui diselenggarakan secara mandiri oleh pihak keluarga tanpa adanya upacara militer. Suasana haru dan duka mendalam menyelimuti seluruh keluarga besar yang mengiringi kepergian almarhum.
Kejadian yang menimpa prajurit ini menyisakan tanda tanya besar dan duka yang mendalam bagi sanak saudara. Publik kini menantikan adanya proses pemeriksaan yang jelas dan terbuka demi memberikan keadilan bagi pihak keluarga yang ditinggalkan.