TIMESINDONESIA.MY.ID - Banyak individu yang tengah berjuang untuk menurunkan berat badan seringkali dihadapkan pada situasi membingungkan. Upaya disiplin dalam mengatur pola makan dan rutin berolahraga terkadang tidak serta-merta terlihat pada angka timbangan.
Meskipun merasakan tubuh terasa lebih ringan atau pakaian terasa lebih longgar, timbangan justru menunjukkan angka yang sama. Fenomena ini dapat menimbulkan rasa frustrasi dan keraguan mengenai efektivitas program penurunan berat badan yang sedang dijalani.
Kondisi stagnasi angka timbangan ini seringkali membuat orang bertanya-tanya apakah cara yang ditempuh sudah benar. Padahal, perubahan yang terjadi pada tubuh tidak selalu dapat diukur secara akurat hanya dari angka timbangan.
Perubahan signifikan pada komposisi tubuh seringkali tidak langsung tercermin pada berat badan absolut. Ada berbagai faktor lain yang berperan dalam menentukan apakah tubuh mengalami perubahan positif atau tidak.
Penjelasan mengenai hal ini datang dari seorang profesional di bidangnya. Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, membagikan pandangannya mengenai fenomena ini.
"Ada berbagai faktor yang mempengaruhi perubahan komposisi tubuh, bukan hanya penurunan berat badan absolut," jelas dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa fokus pada angka timbangan semata bisa jadi kurang tepat. Perubahan yang lebih mendasar pada tubuh mungkin sedang terjadi, namun belum terdeteksi oleh alat ukur konvensional.
Hal ini berarti bahwa rasa perubahan positif yang dirasakan oleh seseorang bisa jadi valid, meskipun angka di timbangan belum menunjukkan pergerakan. Faktor-faktor seperti peningkatan massa otot atau penurunan lemak bisa menjadi penyebabnya.
Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya terpaku pada hasil timbangan. Memperhatikan bagaimana tubuh terasa, tingkat energi, serta perubahan fisik lainnya dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif.