TIMESINDONESIA.MY.ID - Sebuah keyakinan yang telah mengakar kuat di masyarakat Indonesia menyatakan bahwa mengonsumsi biji cabai atau biji jambu secara utuh dapat memicu terjadinya peradangan pada organ usus buntu. Fenomena ini seringkali menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang yang tidak sengaja menelan biji-bijian tersebut.
Pertanyaan mendasar pun muncul mengenai tingkat akurasi anggapan tersebut jika ditinjau dari sudut pandang medis. Apakah memang ada dasar ilmiah yang kokoh di balik mitos yang telah beredar luas di kalangan masyarakat ini?
Untuk menjawab keraguan dan meluruskan kesalahpahaman yang ada, spesialis gizi klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, memberikan penjelasan mendalam. Beliau mengupas tuntas fakta medis terkait isu yang sering diperdebatkan ini.
"Anggapan umum yang telah mengakar kuat di masyarakat adalah bahwa menelan biji cabai atau biji jambu secara utuh dapat memicu peradangan pada organ usus buntu, atau yang dikenal secara medis sebagai apendisitis," ujar dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK.
Beliau menambahkan, "Kepercayaan ini membuat banyak orang khawatir jika tidak sengaja menelan biji-bijian tersebut."
Dalam penjelasannya, dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, secara spesifik mengklarifikasi bahwa biji cabai atau biji jambu tidak memiliki kemampuan untuk menyebabkan peradangan usus buntu. Organ pencernaan manusia memiliki mekanisme yang cukup kuat untuk mengolah serta mengeluarkan benda asing yang tertelan.
"Pertanyaan mendasar pun muncul, seberapa akurat anggapan ini jika ditinjau dari kacamata medis? Apakah ada dasar ilmiah yang kuat di balik mitos yang beredar luas ini?" jelas dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK.
Beliau menegaskan bahwa tidak ada bukti medis yang mendukung klaim bahwa biji cabai atau biji jambu dapat menyumbat usus buntu dan menyebabkan apendisitis. Radang usus buntu umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri atau penyumbatan oleh tinja yang mengeras.
"Untuk menjawab keraguan tersebut, spesialis gizi klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, hadir untuk memberikan penjelasan dan meluruskan berbagai kesalahpahaman yang ada," terang dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK.