TIMESINDONESIA.MY.ID - Kebiasaan mengonsumsi makanan setelah jam sembilan malam kerap dihubungkan dengan peningkatan berat badan, terutama penumpukan lemak di area perut. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai kebenaran ilmiah di baliknya.

Banyak orang meyakini bahwa waktu makan yang terlambat secara otomatis akan membuat tubuh menyimpan lebih banyak energi dalam bentuk lemak. Pemahaman umum ini seringkali menjadi dasar kekhawatiran bagi sebagian individu.

Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah, benarkah keseringan makan di atas jam 9 malam dapat secara langsung meningkatkan kadar lemak di perut? Hal ini menjadi topik perbincangan yang menarik untuk dikaji lebih dalam dari berbagai sudut pandang kesehatan.

Meskipun ada kepercayaan umum, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa penumpukan lemak perut lebih kompleks daripada sekadar waktu makan. Faktor lain seperti total asupan kalori, jenis makanan, dan aktivitas fisik memainkan peran yang lebih signifikan.

"Penting untuk dipahami bahwa tubuh tidak secara ajaib mengubah makanan menjadi lemak hanya karena dimakan larut malam," ujar seorang ahli gizi yang enggan disebutkan namanya.

Beliau menambahkan, "Fokus utama seharusnya pada keseimbangan energi harian, yaitu antara kalori yang masuk dan kalori yang dikeluarkan."

Oleh karena itu, makan larut malam itu sendiri bukanlah penyebab tunggal penumpukan lemak perut. Justru, apa yang dikonsumsi dan seberapa banyak yang menjadi faktor penentu utama.

Kekhawatiran yang berlebihan tentang waktu makan dapat mengarah pada pola makan yang tidak sehat atau rasa bersalah yang tidak perlu. Penting untuk memiliki pemahaman yang seimbang mengenai nutrisi dan metabolisme tubuh.

Dikutip dari TREN.HOTNEWS.ID, fenomena ini menunjukkan perlunya penelaahan lebih dalam agar tidak menimbulkan kekhawatiran yang tidak beralasan di masyarakat.