TIMESINDONESIA.MY.ID - Sebuah momen menarik perhatian publik terjadi dalam perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81 di Istana Presiden, Jakarta, pada Senin, 17 Agustus 2026 lalu. Momen tersebut tertangkap kamera saat Presiden Prabowo Subianto duduk diapit oleh Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan putranya, Gibran Rakabuming Raka.
Gambaran ketiganya yang tampak melepaskan tawa bersama ini sontak memicu berbagai interpretasi dan spekulasi di kalangan pengamat politik. Beberapa pihak melihatnya sebagai sinyal penting dalam dinamika politik nasional.
Adanya dugaan keretakan hubungan antara Presiden Prabowo dan Presiden Jokowi sebelumnya sempat menguat. Isu ini mencuat ketika Presiden Jokowi dikabarkan memulai lawatan politik ke sejumlah daerah dengan memanfaatkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai kendaraan politiknya.
Situasi tersebut kemudian memunculkan prediksi mengenai munculnya "dua matahari kembar" di kancah politik Indonesia. Hal ini mengindikasikan adanya kekuatan politik baru yang berpotensi bersaing.
Selain itu, kedatangan putra Presiden Prabowo, Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo atau yang akrab disapa Didit Hediprasetyo, ke Solo pada akhir Maret 2026 lalu juga sempat diartikan sebagai upaya merajut kembali tali silaturahmi. Hubungan yang dinilai sempat merenggang ini diharapkan dapat diperbaiki melalui kehadiran Didit.
Namun, kehangatan yang terlihat dalam perayaan HUT RI ke-81 seolah meluruhkan keraguan tersebut. Tangkapan layar yang memperlihatkan ketiganya duduk berdampingan dan tertawa ramai dibicarakan publik.
"Situasi yang menggambarkan keakraban tersebut merupakan antitesis dari isu keretakan antara Prabowo dengan Jokowi," ujar seorang tokoh yang enggan disebutkan namanya, mengomentari momen tersebut.
Isu keretakan ini semakin bergulir ketika Presiden Jokowi memulai lawatan politiknya ke sejumlah daerah dengan PSI sebagai kendaraannya, yang dinilai oleh sebagian pihak sebagai penanda pergeseran politik.
"Atas situasi ini, sejumlah pihak meramal akan munculnya dua matahari kembar di panggung politik Indonesia," kata pengamat politik senior, Budi Santoso.