TIMESINDONESIA.MY.ID - Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Syaiful Bakhri, membagikan sebuah momen menarik saat dirinya tengah memberikan laporan mengenai energi nuklir kepada Presiden Prabowo Subianto. Kejadian ini terjadi pada hari Jumat, 7 Agustus 2026.

Dalam sebuah kesempatan wawancara, Syaiful Bakhri mengungkapkan bahwa dirinya diminta oleh Presiden Prabowo untuk menonaktifkan mikrofon yang sedang digunakannya. Permintaan tersebut disampaikan secara isyarat, bukan melalui ucapan verbal.

"Ya karena memang Pak Presiden sih memerintahkan saya mematikan mik ya saya harus mengikuti mematikan mik. Ya sesimpel itu sebenarnya sih, hahaha…," demikian Syaiful Bakhri menjelaskan kepada Kompas.com.

Gestur yang diberikan oleh Presiden Prabowo cukup jelas, yaitu dengan mengulurkan tangan kirinya ke arah mikrofon yang sedang dipegang oleh Syaiful Bakhri. Tindakan ini mengindikasikan adanya keinginan untuk meredam suara agar tidak terdengar terlalu keras.

Menanggapi instruksi tersebut, Syaiful Bakhri segera menindaklanjutinya dengan menempatkan mikrofon tersebut agar tidak menangkap suara secara optimal. Hal ini dilakukannya sebagai bentuk kepatuhan terhadap arahan pimpinan.

Meskipun demikian, Syaiful Bakhri mengakui bahwa dirinya tidak sepenuhnya memahami alasan di balik permintaan Presiden Prabowo untuk mematikan mikrofon. Ia menduga bahwa alasan tersebut bukanlah karena keterbatasan waktu yang mendesak.

Presiden Prabowo Subianto sendiri memberikan isyarat kepada Syaiful Bakhri untuk mematikan mikrofon hanya melalui kode gestur tangan. Tidak ada instruksi lisan yang diberikan pada momen tersebut, menunjukkan komunikasi yang efisien.

Tindakan mematikan mikrofon ini terjadi setelah Syaiful Bakhri selesai menyampaikan beberapa poin penting dalam laporannya mengenai potensi dan pengembangan energi nuklir di Indonesia. Detail spesifik mengenai isi laporan tersebut belum banyak diungkap.

Peristiwa ini memberikan gambaran sekilas mengenai dinamika komunikasi antara pejabat BRIN dan Presiden dalam forum resmi. Meskipun sederhana, momen ini memicu rasa penasaran mengenai substansi pembicaraan yang lebih mendalam.