TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) memicu respons cepat dari pemerintah pusat. Tim gabungan lintas kementerian dan lembaga telah dikerahkan untuk menangani dampak bencana ini.

Fokus utama saat ini adalah menyelesaikan fase tanggap darurat guna meminimalkan korban dan kerugian. Pemerintah menetapkan target waktu yang ambisius untuk percepatan penanganan pasca-gempa.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa tim gabungan menargetkan fase tanggap darurat gempa bumi di NTT dapat diselesaikan dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu ke depan. Target ini merupakan upaya percepatan penanganan bencana.

"Tim gabungan dari pemerintah pusat lintas kementerian/lembaga menargetkan fase tanggap darurat bisa kita selesaikan dalam dua, tiga minggu ke depan," ujar Abdul Muhari dalam keterangan pers virtual yang diselenggarakan pada Minggu (16/8/2026).

Namun, Abdul Muhari juga menekankan bahwa target yang telah ditetapkan ini bukanlah patokan mutlak. Penyesuaian dapat dilakukan apabila kondisi di lapangan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

"Tetapi hasil rapat koordinasi tadi pagi, di awal kita setting target supaya tanggap darurat ini tidak terlalu lama dan kita bisa nanti langsung masuk ke fase transisi darurat," ucap Abdul Muhari, menjelaskan strategi yang diambil.

Menurut Deputi Bidang Pencegahan BNPB, penyesuaian target ini sangat dimungkinkan. Hal ini akan bergantung pada hasil pemantauan di wilayah-wilayah yang terdampak gempa.

Jika pemantauan menunjukkan adanya kondisi yang memerlukan perhatian dan penanganan ekstra, maka target waktu yang ditetapkan bisa saja berubah. Fleksibilitas menjadi kunci dalam penanganan bencana yang dinamis ini.

Pemerintah berharap dengan penargetan fase tanggap darurat yang efisien, transisi menuju fase pemulihan dan rehabilitasi dapat segera dilakukan. Upaya ini juga melibatkan koordinasi erat antarinstansi terkait.