TIMESINDONESIA.MY.ID - Tren diet tinggi protein semakin populer di kalangan masyarakat yang ingin menurunkan berat badan atau membentuk massa otot. Pendekatan ini seringkali dipromosikan sebagai metode yang efektif untuk mencapai tujuan kebugaran.
Namun, seiring dengan popularitasnya, muncul pula kekhawatiran mengenai potensi dampak diet ekstrem ini terhadap kesehatan organ tubuh, khususnya ginjal.
Secara umum, ginjal individu yang sehat memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap asupan protein yang lebih tinggi. Mekanisme tubuh bekerja secara efisien dalam kondisi normal untuk memproses nutrisi.
"Secara umum, individu dengan kondisi ginjal yang sehat cenderung mampu mentoleransi asupan protein yang lebih tinggi tanpa masalah signifikan," ujar seorang ahli kesehatan.
Situasi ini dapat berbeda secara drastis bagi mereka yang sudah memiliki gangguan fungsi ginjal. Beberapa kondisi medis dapat meningkatkan risiko tersebut.
"Namun, situasi dapat berubah secara drastis bagi mereka yang telah memiliki gangguan fungsi ginjal," jelas ahli tersebut.
Kondisi seperti diabetes, tekanan darah tinggi, atau riwayat batu ginjal yang berulang merupakan faktor risiko penting yang perlu dipertimbangkan secara serius. Ketiga kondisi ini dapat memengaruhi cara ginjal bekerja.
"Kondisi seperti diabetes, tekanan darah tinggi, atau riwayat batu ginjal berulang menjadi faktor risiko penting yang perlu dipertimbangkan," tambahnya.
Oleh karena itu, bagi individu yang memiliki riwayat penyakit tersebut, konsultasi dengan profesional kesehatan sebelum memulai diet tinggi protein sangatlah dianjurkan.