TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026. Peristiwa alam ini tidak hanya meninggalkan dampak langsung, tetapi juga memicu serangkaian gempa susulan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat adanya aktivitas gempa susulan yang signifikan di wilayah tersebut. Data ini dikumpulkan sejak gempa utama terjadi hingga hari berikutnya.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, memaparkan rincian mengenai gempa susulan yang terjadi. Perhitungan ini dilakukan berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Dari BMKG untuk gempa susulan hingga 16 Agustus pukul 15.00 WIB. Total gempa susulan berjumlah 995 kali," ujar Abdul Muhari dalam sebuah konferensi pers virtual yang diselenggarakan pada hari Minggu, 16 Agustus 2026.

Jumlah gempa susulan yang tercatat mencapai angka yang cukup tinggi, menunjukkan adanya pelepasan energi yang berkelanjutan pasca gempa utama. Angka 995 kali gempa susulan ini merupakan akumulasi dari berbagai skala kekuatan.

Dari total 995 gempa susulan tersebut, sebagian kecil dilaporkan dapat dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar episentrum dan wilayah terdampak. Hal ini menunjukkan perbedaan intensitas guncangan yang terjadi.

"Artinya, tidak lebih dari 10 persen dari total gempa susulan yang dirasakan oleh masyarakat," jelas Abdul Muhari lebih lanjut. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa mayoritas gempa susulan memiliki magnitudo yang tidak cukup kuat untuk menimbulkan getaran yang dirasakan.

Perbedaan persepsi ini penting untuk dipahami, di mana gempa susulan yang terekam oleh alat masih sangat banyak, namun hanya sebagian kecil yang mampu menimbulkan efek fisik di permukaan. Hal ini juga menunjukkan ketahanan struktur bangunan dan jarak dari pusat gempa.

Informasi ini penting untuk diketahui oleh masyarakat di NTT agar tetap waspada terhadap potensi gempa susulan, meskipun sebagian besar tidak menimbulkan ancaman serius. Pemantauan terus dilakukan oleh BMKG dan BNPB.