TIMESINDONESIA.MY.ID - Sebuah momen kilas balik terjadi di Kongres VI Partai Demokrat pada Februari tahun lalu. Presiden Prabowo Subianto sempat melontarkan pernyataan bernada candaan kepada para putra mantan presiden yang hadir di lokasi.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menyoroti posisi mereka yang saat itu duduk bersandingan. Ia memberikan catatan bahwa di masa depan, situasi tersebut bisa saja berubah menjadi sebuah persaingan politik.
Tujuh bulan berselang, seloroh sang Presiden seolah menemukan relevansinya kembali dalam dinamika politik nasional. Hal ini terlihat saat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tampil memberikan pidato politik dalam perayaan hari ulang tahun Partai Demokrat yang ke-25.
Peristiwa tersebut berlangsung pada Sabtu malam, 5 September 2026. Pidato ini segera menjadi sorotan publik dan memicu beragam tafsir di kalangan pengamat politik tanah air.
Dalam pidatonya yang bertema "Demokrat Bersama Rakyat: Memajukan Ekonomi, Menegakkan Keadilan, dan Menjaga Demokrasi", AHY menyoroti sejumlah isu krusial. Ia menekankan pentingnya menjaga netralitas TNI, Polri, serta aparatur sipil negara dalam penyelenggaraan negara.
Selain itu, AHY juga menyinggung urgensi penegakan supremasi hukum yang berkeadilan bagi seluruh rakyat. Ia pun menegaskan kembali mengenai hak konstitusional warga negara untuk memilih dan dipilih secara demokratis.
Dikutip dari Kompas.id, Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan pandangannya terkait sirkulasi kekuasaan dalam pidato tersebut. "Kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya," ujar Agus Harimurti Yudhoyono.
Dalam kesempatan yang sama, AHY juga menyoroti kondisi ekonomi masyarakat yang sedang mengalami tantangan berat. Ia tidak menampik adanya beban hidup yang dirasakan oleh sebagian warga saat ini.
"Tekanan itu nyata," kata Agus Harimurti Yudhoyono.