TIMESINDONESIA.MY.ID - Fenomena lulusan pendidikan vokasi yang dinilai lebih cepat terserap ke dunia kerja menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Situasi ini mendorong adanya tinjauan ulang terhadap relevansi kurikulum yang diterapkan.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalua Hadrian Irfani, mengemukakan bahwa fenomena ini seharusnya menjadi bahan evaluasi penting bagi sistem pendidikan tinggi secara keseluruhan. Ia menekankan pentingnya melihat fenomena ini sebagai masukan konstruktif.

"Menurut saya, fenomena lulusan vokasi yang relatif lebih cepat terserap kerja perlu kita lihat sebagai masukan penting bagi pendidikan tinggi, bukan sebagai pertentangan antara vokasi dan sarjana," ujar Lalu saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu, 8 Juli 2026.

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa perbedaan kecepatan penyerapan kerja antara lulusan vokasi dan sarjana bukanlah sebuah kompetisi, melainkan sebuah indikator yang perlu dicermati untuk perbaikan.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menilai bahwa perbaikan pada sistem pendidikan sarjana sangatlah krusial. Tujuannya adalah untuk memastikan lulusannya memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi tuntutan dunia kerja.

Ia secara spesifik menyoroti keunggulan pendidikan vokasi yang memang sejak awal dirancang agar memiliki kedekatan erat dengan kebutuhan industri. Hal ini terlihat dari penekanan pada pengalaman praktik dan penguasaan keterampilan teknis.

"Yang perlu diperbaiki pada pendidikan sarjana adalah memastikan pembelajaran tidak terlalu teoritis dan semakin relevan dengan kebutuhan zaman," ucap Lalu.

Usulan ini mengindikasikan adanya kebutuhan untuk menggeser fokus pembelajaran di jenjang sarjana agar tidak hanya berkutat pada teori semata. Perlu ada keseimbangan yang lebih baik antara teori dan praktik.

Hal ini penting agar lulusan sarjana tidak kalah bersaing dengan lulusan vokasi yang telah dibekali pengalaman praktis lebih banyak selama masa studinya. Integrasi praktik yang lebih kuat diharapkan dapat meningkatkan daya saing.