TIMESINDONESIA.MY.ID - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia dan memicu kekhawatiran mendalam terhadap kesehatan masyarakat. Menghadapi situasi tersebut, langkah tanggap darurat segera diambil oleh pemerintah demi melindungi warga yang terpapar polusi udara berbahaya.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara resmi menurunkan ratusan tenaga medis dan menyalurkan pasokan logistik kesehatan ke berbagai daerah terdampak. Upaya kemanusiaan ini diprioritaskan untuk mengantisipasi lonjakan gangguan pernapasan serta memastikan layanan kesehatan masyarakat tetap berjalan optimal.
"Sebagai langkah mitigasi dampak kesehatan dari karhutla, kami mengerahkan sebanyak 314 tenaga medis yang mencakup dokter, perawat, bidan, hingga ahli epidemiologi, dengan prioritas penempatan di wilayah Kalimantan Tengah serta Kalimantan Selatan," ujar Agus Jamaludin.
Keterangan tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan pada Sabtu (22/8/2026). Dikutip dari KOMPAS.com, pengerahan tenaga ahli dan logistik medis ini menjadi garda terdepan dalam penanganan krisis kesehatan langsung di titik-titik bencana.
Kondisi di lapangan menunjukkan eskalasi dampak yang cukup signifikan bagi aktivitas dan kesehatan warga setempat. Catatan Kemenkes memperlihatkan lebih dari tiga juta jiwa di 37 kabupaten dan kota kini merasakan langsung pekatnya kabut asap akibat kebakaran lahan tersebut.
Guna memastikan penanganan yang merata, ratusan tenaga medis disiagakan di tujuh provinsi terdampak karhutla. Wilayah penugasan tersebut mencakup kawasan Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur.
"Sebanyak enam provinsi di antaranya bahkan sudah menetapkan status siaga darurat bencana menyusul kondisi kemarau berkepanjangan yang terjadi sejak awal tahun 2026," kata Agus Jamaludin.
Kehadiran tim tenaga medis bersama distribusi logistik diharapkan dapat meringankan beban masyarakat di daerah terdampak. Sinergi penanganan ini ditujukan untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang selama masa siaga darurat bencana berlangsung.